Apa itu Revolusi Industri 4.0?
Definisi
revolusi industri adalah perubahan yang terjadi dengan kemajuan teknologi yang
besar disertai dengan perubahan sosial ekonomi dan budaya yang signifikan. Saat
ini dunia telah memasuki revolusi industry keempat itu artinya dunia sudah
melalui tiga perubahan. Setiap perubahan yang dialami tentunya selalu
menghasilkan inovasi-inovasi baru yang berbeda dari sebelumnya. Mulai dari
pemanfaatan tenaga kerja manusia hingga tergantikan oleh tenaga kerja dengan
memanfaatkan tenaga kerja buatan seperti mesin dan sejenisnya. Berikut ini
merupakan sejarah perjalanan revolusi yang terjadi didunia beserta penemuannya.
Revolusi
industry pertama ditandai dengan masih dipergunakannya teknik kuno, yaitu
penggunaan uap untuk menggerakkan mesin yang berbahan bakar kayu atau batu
bara. Revolusi tahap pertama terjadi di Inggris pada abad ke-17 yaitu Pada
akhir 1700 sampai pertengahan 1800an yang ditandai dengan transisi dari
pembuatan barang menggunakan tangan dengan beralih ke mesin. Negara yang
pertama kali menggunakan mesin uap tersebut adalah Inggris kemudian diadopsi di
Belgia, Prancis, Amerika Serikat dan menjalar ke negara-negara lain. Setelah
itu, muncullah inovasi baru yaitu pengembangan peralatan mesin dan pabrik, yang
menyebabkan perubahan besar-besaran dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Kemudian pada akhir 1800-an lahirlah revolusi
industry kedua.
Sementara
revolusi industri kedua ditandai oleh penemuan listrik. Revolusi Industri Kedua
dimulai pada tahun 1870-an dan berlangsung hingga awal Perang Dunia I pada
tahun 1914 dengan memanfaatkan
perkembangan yang terjadi selama Revolusi Industri pertama. Hal tersebut ditandai
dengan meluasnya penggunaan teknologi di Inggris, AS, Prancis, Jerman, dan
Belgia. Saat itu ekspansi
kereta api sangat cepat, mesin
telegraf, produksi massal baja, penggunaan listrik, dan penggunaan minyak. Lambat laun tenaga kuda tergantikan oleh
mobil. Upah naik selama periode ini, seperti halnya sanitasi publik dan
teknologi medis.
Kedua revolusi tersebut memiliki
dampak sosial ekonomi dan budaya yang besar, beberapa baik, beberapa buruk.
Kebutuhan dasar, seperti makanan dan pakaian, menjadi lebih tersedia.
Perdagangan meningkat. Populasi melonjak saat orang berpindah dari daerah
pedesaan ke kota. Pada saat yang sama, polusi yang lebih banyak menyebabkan
konsekuensi kesehatan yang serius, dan kondisi perburuhan yang tidak aman
mengakibatkan keresahan pekerja. Negara-negara yang mempelopori revolusi
pertama mendominasi yang kedua juga. Namun Jerman, Jepang dan negara-negara
lain juga menganut perubahan yang terakhir. Peran Amerika yang kuat membantu AS
menjadi pemimpin global di bidang manufaktur, yang menjadikan ekonomi terbesar
di dunia pada tahun 1913.
Sementara
itu, revolusi industri ketiga muncul saat pengenalan komputer dan elektronik
digital lainnya di tahun 1950an. Di antara perubahan kunci adalah otomasi, yang
menyebabkan kenaikan Cina. Tugas dan keterampilan skill tak lagi menjadi
primadona karena perakitan diserahkan ke mesin. Dari sudut pandang konsumen dan
budaya, era ini sering teridentifikasi dengan perubahan mendalam akibat
diperkenalkannya televisi dan komputer pribadi.
Selama
revolusi ketiga, AS mulai menyerahkan peran pabrikan utamanya ke Cina karena
perusahaan tersebut menginvestasikan produksi dan pendidikan industri dan
meredakan kebijakan perdagangan yang ketat. Untuk AS, itu berarti pabrik
tekstil dan pabrik baja ditutup, menyebabkan hilangnya lebih dari empat juta
pekerjaan manufaktur. Namun, manufaktur tetap menjadi bagian integral dari
ekonomi AS, yang mempekerjakan hampir 13 juta orang dalam produksi elektronik,
mobil, pesawat terbang, minyak olahan, plastik, farmasi dan banyak lagi. Saat
ini, era itu mulai tergerus dengan lahirnya era digital yang menjadi penanda
era globalisasi gelombang ketiga, dengan meletusnya revolusi industri keempat.
Revolusi
industri keempat merupakan era digital dimana hampir semua mesin terhubung melalui internet atau cyber system. Perkembangan revolusi industri
generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar,
kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik, perkembangan neuroteknologi dan hal yang paling nyata saat ini adalah berkembangya transportasi online seperti GO-jek, UBER, Grab, dan sebagainya. Adanya pembauran
ini menyebabkan pekerja yang tidak berkompeten akan disingkirkan
oleh yang berkompeten. Selain itu, semua perusahaan besar terancam akan
mengalami kemunduran apabila tidak cepat tanggap. Persaingan yang sangat
kompetitif dan kemauan untuk berkompetisi merupakan kunci dari revolusi ini. Sebagai
contoh dengan adanya Uber mengalahkan alat-alat transportasi konvensional
sehingga perusahaan transportasi seperti taxi lambat laun akan punah. Hal ini
merupakan peringatan bahwa besar kecilnya sebuah peusahaan tidak menjadi kunci
kesuksesan akan tetapi kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih
prestasi dengan cepat. Oleh karenanya, menurut Maruli, lembaga pendidikan dan
pelatihan Indonesia harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah
sesuai kebutuhan pasar kerja. Adapun lulusan yang memiliki nilai tambah yang
dimaksud adalah lulusan yang berkarakter, kompeten, dan inovatif.
Revolusi industri 4.0 sangat berbahaya, bukan? akan tetapi hal tersebut tidak akan berbahaya bagi setiap orang apabila mempersiapkan diri dengan baik.

Komentar
Posting Komentar