Terimakasih, Kakak.
Dia adalah kakakku. Seorang yang berjiwa besar, penyayang, penurut, sedikit menyebalkan.
Kami mandiri sedari kecil, LDR dengan orangtua. Terkadang orang-orang yg belum mengenal persis mereka mengira bahwa kami cuma dua bersaudara. Bahkan sebagian dari mereka mengira bahwa kami bukanlah saudara karena tidak punya kemiripan sama sekali.
Dari enam bersaudara hanya kamilah yang ditinggal dikampung untuk melanjutkan sekolah. Sedangkan adik kami diboyong oleh orangtua karena mereka masih terlalu kecil untuk ditinggal. Kakak kedua kami juga harus ikut untuk membantu bapak di rantauan agar kelak bapak tua, ada yg mewarisi tradisi keluarga kami sebagai panrita lopi (pembuat perahu phinisi) sebagaimana beliau mewarisi kepiawaian sang kakek.
Berselang beberapa tahun, kakak pertama kami pun juga ikut ke rantauan bersama suami dan anaknya karena potensi untuk menghasilkan dikampung sangatlah minim.
Semakin Aku bertumbuh, semakin sadar bahwa bekerja keras adalah sebuah keharusan karena kami bukanlah berasal dari keluarga yg serba berkecukupan.
"gitte bukupi nipapeppe na kulle nisihoi babayya" (konjo) yang artinya kami harus kerja banting tulang untuk mendapatkan sesuap nasi.
Kata-kata itu sudah menjadi mantra penyemangat untukku.
Kakakku adalah salah seorang yg selalu menginspirasi, dia selalu berkata "Jangan terlalu mengharapakan orangtua ketika menginginkan sesuatu, tapi wujudkanlah dengan keringatmu sendiri". Kata-kata tersebut selalu kugenggam erat, agar ketika menginginkan sesuatu tidak harus merengek pada orangtua.
Aku pun bangga dengan diriku, sebab sudah menghasilkan sedari kecil dengan menjadi tenaga pengajar di salah satu TKA/TPA dikampung sepulang sekolah, yah walaupun penghasilannya tidak seberapa setidaknya bisa menutupi kebutuhanku sebab uang jajan yang kuterima terbatas tiap bulan, tak pernah lebih bahkan selalu kurang. Namun Aku mafhum dengan hal itu bahwa kami hanyalah berasal dari kalangan ekonomi lemah sehingga tak jarang bantuan berupa beasiswa dari sekolah kerap kali kami terima. Saat kuliahpun aku harus memutar otak mencari cara agar tidak terlalu membebani orangtua meskipun uang jajan yang mereka kirimkan sudah lebih dari cukup karena keadaan ekonomi keluarga kami mulai membaik. Aku pun mulai membuka usaha jualan berbasis digital yang sering disebut olshop namun selang beberapa bulan Aku berhenti dengan alasan sepi pelanggan, kemudian lanjut berjualan pulsa, namun berhenti lagi karena kehabisan modal. Sehingga pada tahun 2017 (hingga saat ini), berawal dari mata kuliah kewirausahaan, Aku mulai merintis usaha crafting sehingga keuanganku pun semakin tertolong. (bagi yang penasaran, silahkan kunjungi akun instagram https://instagram.com/artikaflorist?igshid=p9dgh3ztu4tq) eh, iklan wkwk. skipp
Semua karena kata-kata kakakku yang selalu berputar dalam ingatan.
Kami tamat SMA tahun 2015. Akupun memutuskan untuk lanjut kuliah sementara kakakku mengalah, lagi karena faktor ekonomi keluarga yang tidak mendukung jika harus melanjutkan kami berdua.
Salah satu keluarga kami memanggil dia bekerja sebagai penjaga kapal (yang sementara dibangun), singkat cerita ia pun dipercayai oleh si bule pemilik kapal sehingga diangkat menjadi salah satu kru kapal saat itu. Dia pun mulai mengirimi saya sejumlah uang. Setelah dirasa cukup, ia menyekolahkan dirinya dengan penghasilan yang ia terima selama berbulan-bulan. Kemudian lanjut berlayar. Ketika uangnya cukup, ia kembali lagi bersekolah lalu kembali berlayar. begitu seterusnya.
Sekarang mimpinya terwujud, apa yang dulu diinginkan terpenuhi. Cita-citanya menjadi pelaut, punya kendaraan sendiri, trip keliling Indonesia, dan pastinya selalu menjadi penyelamatku diakhir bulan.
Terkadang rasa bersalah selalu menghantuiku, sebab dia harus banting tulang demi menyekolahkan dirinya karenaku. Namun disitulah tangan tuhan bekerja dengan doa ibu yang tak henti-hentinya melangit.
Semua sudah digariskan oleh-NYA.
Masa lalu tidak boleh diratapi, jadikan motivasi untuk terus bergerak maju.
Terimakasih, Kakak.
Untuk siapapun yang saat ini sedang bersamanya tolong jangan disia-siakan, semangat berjuang bersama menuju hubungan yang diridhoi oleh-NYA. Inshaa Allah.
Last but not least, jangan lupa bersyukur, meskipun hanya makan nasi dan garam saja.
Kami mandiri sedari kecil, LDR dengan orangtua. Terkadang orang-orang yg belum mengenal persis mereka mengira bahwa kami cuma dua bersaudara. Bahkan sebagian dari mereka mengira bahwa kami bukanlah saudara karena tidak punya kemiripan sama sekali.
Dari enam bersaudara hanya kamilah yang ditinggal dikampung untuk melanjutkan sekolah. Sedangkan adik kami diboyong oleh orangtua karena mereka masih terlalu kecil untuk ditinggal. Kakak kedua kami juga harus ikut untuk membantu bapak di rantauan agar kelak bapak tua, ada yg mewarisi tradisi keluarga kami sebagai panrita lopi (pembuat perahu phinisi) sebagaimana beliau mewarisi kepiawaian sang kakek.
Berselang beberapa tahun, kakak pertama kami pun juga ikut ke rantauan bersama suami dan anaknya karena potensi untuk menghasilkan dikampung sangatlah minim.
Semakin Aku bertumbuh, semakin sadar bahwa bekerja keras adalah sebuah keharusan karena kami bukanlah berasal dari keluarga yg serba berkecukupan.
"gitte bukupi nipapeppe na kulle nisihoi babayya" (konjo) yang artinya kami harus kerja banting tulang untuk mendapatkan sesuap nasi.
Kata-kata itu sudah menjadi mantra penyemangat untukku.
Kakakku adalah salah seorang yg selalu menginspirasi, dia selalu berkata "Jangan terlalu mengharapakan orangtua ketika menginginkan sesuatu, tapi wujudkanlah dengan keringatmu sendiri". Kata-kata tersebut selalu kugenggam erat, agar ketika menginginkan sesuatu tidak harus merengek pada orangtua.
Aku pun bangga dengan diriku, sebab sudah menghasilkan sedari kecil dengan menjadi tenaga pengajar di salah satu TKA/TPA dikampung sepulang sekolah, yah walaupun penghasilannya tidak seberapa setidaknya bisa menutupi kebutuhanku sebab uang jajan yang kuterima terbatas tiap bulan, tak pernah lebih bahkan selalu kurang. Namun Aku mafhum dengan hal itu bahwa kami hanyalah berasal dari kalangan ekonomi lemah sehingga tak jarang bantuan berupa beasiswa dari sekolah kerap kali kami terima. Saat kuliahpun aku harus memutar otak mencari cara agar tidak terlalu membebani orangtua meskipun uang jajan yang mereka kirimkan sudah lebih dari cukup karena keadaan ekonomi keluarga kami mulai membaik. Aku pun mulai membuka usaha jualan berbasis digital yang sering disebut olshop namun selang beberapa bulan Aku berhenti dengan alasan sepi pelanggan, kemudian lanjut berjualan pulsa, namun berhenti lagi karena kehabisan modal. Sehingga pada tahun 2017 (hingga saat ini), berawal dari mata kuliah kewirausahaan, Aku mulai merintis usaha crafting sehingga keuanganku pun semakin tertolong. (bagi yang penasaran, silahkan kunjungi akun instagram https://instagram.com/artikaflorist?igshid=p9dgh3ztu4tq) eh, iklan wkwk. skipp
Semua karena kata-kata kakakku yang selalu berputar dalam ingatan.
Kami tamat SMA tahun 2015. Akupun memutuskan untuk lanjut kuliah sementara kakakku mengalah, lagi karena faktor ekonomi keluarga yang tidak mendukung jika harus melanjutkan kami berdua.
Salah satu keluarga kami memanggil dia bekerja sebagai penjaga kapal (yang sementara dibangun), singkat cerita ia pun dipercayai oleh si bule pemilik kapal sehingga diangkat menjadi salah satu kru kapal saat itu. Dia pun mulai mengirimi saya sejumlah uang. Setelah dirasa cukup, ia menyekolahkan dirinya dengan penghasilan yang ia terima selama berbulan-bulan. Kemudian lanjut berlayar. Ketika uangnya cukup, ia kembali lagi bersekolah lalu kembali berlayar. begitu seterusnya.
Sekarang mimpinya terwujud, apa yang dulu diinginkan terpenuhi. Cita-citanya menjadi pelaut, punya kendaraan sendiri, trip keliling Indonesia, dan pastinya selalu menjadi penyelamatku diakhir bulan.
Terkadang rasa bersalah selalu menghantuiku, sebab dia harus banting tulang demi menyekolahkan dirinya karenaku. Namun disitulah tangan tuhan bekerja dengan doa ibu yang tak henti-hentinya melangit.
Semua sudah digariskan oleh-NYA.
Masa lalu tidak boleh diratapi, jadikan motivasi untuk terus bergerak maju.
Terimakasih, Kakak.
Untuk siapapun yang saat ini sedang bersamanya tolong jangan disia-siakan, semangat berjuang bersama menuju hubungan yang diridhoi oleh-NYA. Inshaa Allah.
Last but not least, jangan lupa bersyukur, meskipun hanya makan nasi dan garam saja.

MasyaAllah. Sangat menginspirasi. Semangat untuk berkarya dan bekerja keras💪
BalasHapus